Menikmati Penghambaan

Mestinya, syariat Allah adalah rahmat bagi semesta alam, khususnya bagi manusia. Paket lengkap tentang bagaimana mengelola dunia dan menjalani tugas kekhalifahan yang tidak mudah itu. Sehingga selain memberi jawaban atas pertanyaan, menyediakan solusi atas berbagai persoalan, dan menunjuki jalan pilihan meraih kebahagiaan, ia juga mencerahkan jiwa yang membuatnya nyaman. Tapi kini, ia tak jua menjadi hiburan kalbu –kecuali bagi mereka yang terpilih-, namun berubah menjadi beban berat sehingga tak terasa nikmat. Ia serupa monster menakutkan yang harus ditumpas, sebab jiwa merindu bebas.


Manusia seringkali lupa, atau malah bodoh, bahwa Allah adalah Ilah yang hak bagi mereka, dan tidak ada Ilah selain-Nya. Dia Maha benar dengan uluhiyah-Nya, sehingga membatalkan seluruh klaim ilah-ilah yang lain. Perintah dan larangannya berdiri di atas prinsip ini. Tidak ada, dan takkan pernah ada yang salah dengan keputusan-Nya tentang sesuatu. Tapi kenapa manusia sulit untuk mengerti?

Jadi, untuk apa Allah mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, melarang yang ini dan memerintahkan yang itu? Jelas bukan untuk diri-Nya sendiri sebab tak perlu. Dia akan tetap meninggi sebagai Rabb dan Ilah bahkan saat seluruh manusia menolak-Nya. Dia juga tak bertambah kuasa-Nya ketika semua manusia menerima-Nya. Dia akan tetap menjadi Dia dengan atau tanpa penghambaan manusia.

Adalah manusia yang membutuhkan penerimaan syariat Allah, beribadah kepada-Nya demi kebahagiaan dan kejayaan mereka sendiri. Kebutuhan mereka kepada Allah –melalui penerimaan uluhiyah-Nya-, adalah kebutuhan tanpa banding, meski dalam beberapa hal serupa dengan kebutuhan jasad akan makan, minum dan nafas. Selain itu, beribadah adalah kesyukuran hamba akan nikmat Allah, meski dia tidak akan pernah bisa mensyukuri nikmat-Nya dengan utuh. Ia adalah sebuah kewajiban akan hak Allah yang mesti ditunaikan.

Jadi, kesulitan dan beban yang timbul selama beribadah, sejatinya bukanlah tujuan utama. Ia adalah sebagai konsekuensi proses pencapaian kebaikan, sekaligus penolakan keburukan bagi manusia. Jika manusia tidak siap menjalaninya, kebaikan yang didamba takkan pernah sempurna, atau bahkan takkan pernah ada.

Kita percaya bahwa Allah tidak akan memberi beban di luar kesanggupan kita memikulnya, sehingga kita yakin pasti bisa, insya Allah. Bahkan jika kita tahu caranya, proses yang sebagian manusia terasa sulit dan berat itu, akan menjadi manis dan lezat bagi jiwa kita. Ia adalah santapan dan hiburan sekaligus.

Perjalanan waktu yang terus melaju, hanya akan membagi manusia menjadi dua kelompok saja; menuju surga atau neraka, dan tidak ada pilihan ketiga. Yang ada hanyalah perbedaan kecepatan diantara kedua arah itu, karena tidak akan ada yang berdiam. Yang karenanya kita harus membuat pilihan.

Jadi, mari menghadapkan wajah kita kepada Allah secara lurus! Sebab tidak ada pilihan lain bagi para pendamba kebahagiaan sejati. Apalagi kita percaya, bahwa menjadi orang kafir, ternyata tidak mudah! Wallahu a’lam.

Majalah Arrisalah No. 81/Vol VII/Hal.64-Muhasabah.

Categories: Dept. Dakwah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: