Perintah Tuhan VS Perintah Atasan

ImagePenulis: Muh. Amirullah (Ketua Umum SCRN FIP UNM)

Senin pagi, seolah menjadi penanda aktivitas panjang yang akan kita lalui sepekan ke depannya. Di pagi ini, lalu lintas di jalan protokol hingga jalur-jalur alternatif padat merayap.  Kendaraan saling berlomba membunyikan klakson, terutama di daerah-daerah perempatan, pertigaan dan di sekitar kawasan lampu merah. Suara motor berderu, terlihat dikiri kanan banyak pengendara motor yang saling berlomba memacu kendaraannya, seakan beradu dengan waktu.

Apa yang mereka kejar? Tentu saja ketepatan waktu dan kedisiplinan. Bagi siswa-siswa di sekolah, mereka tidak ingin terlambat sehingga tidak diikutkan upacara, mengapa? Karena konsekuensinya jelas, hukuman dari bagian kesiswaan. Hukumannya tentu saja sangat tidak mengenakkan, kadang dijemur, kadang membersihkan sampah di halaman sekolah atau bahkan membersihkan WC umum yang ada di sekolah. Jelas ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, wajarlah kalau para siswa sangat bersungguh-sungguh untuk dating tepat waktu ke sekolah.

Lain lagi dengan para pekerja dan karyawan, alasan untuk datang tepat waktu di pagi hari tentu saja karena mereka tidak ingin terlihat sebagai pekerja yang pemalas dihadapan atasannya. Wajar memang, karena konsekuensinya juga jelas; pengurangan gaji atau bahkan kemungkinan terburuknya adalah pemecatan.

Sebenarnya, tindakan sekolah memberlakukan aturan tersebut adalah agar siswa terbiasa dengan kedisiplinan dan kelak bisa menerapkannya saat telah bekerja. Demikian juga dengan para atasan, mereka mengeluarkan kebijakan tersebut agar mendapatkan karyawan yang berkualitas, punya etos kerja, dan tentu saja memberikan sumbangsih yang positif bagi perusahaan.

Jadi, jelaslah bahwa konsekuensi logis dari sebuah tindakan yang dilakukan akan berdampak besar terhadap perilaku seseorang.

Sayangnya, ketika orang-orang getol melaksanakan seruan dari sesama makhluk, mereka terkadang -bahkan sering-   terlupakan terhadap seruan yang lebih agung dan lebih besar. Itulah seruan dari Allah taala. Seruan tersebut terutama adalah seruan di waktu-waktu sholat. Ketika Sang Khaliq, pemilik Alam semesta ini menyeru kita, dan meminta waktu sejenak, sekitar 7- 12 menit, nyatanya banyak diantara kita yang enggan untuk segara merespon seruan tersebut. Mungkinkah mereka tidak mengetahui pahala besar di balik seruan adzan ketika kita mendatanginya, ganjaran pahala 27 derajat sudah pasti di raih, Insya Allah, pahala sholat di awal waktu, pahala mendapatkan shaf pertama, belum lagi janji Allah tentang langkah kaki orang yang berjalan kemesjid, setiap langkah kaki kanan akan bernilai sebagai kebaikan, dan langkah kaki kiri akan menghapuskan dosa-dosa? Sungguh pahala yang luar biasa dan tentu saja ini menjadi investasi kita agar mendapatkan kebahagiaan di kehidupan akhirat.

Namun mengapa kita tetap saja lalai dan lebih memilih memalingkan wajah menuju kepada keridhoan makhluk (atasan dan kepala sekolah, red)? Mungkinkah kita tidak yakin dengan ancaman-ancaman yang disampaikan oleh Allah ‘azza wa jalla lewat lisan Rasul-Nya yang agung bagi orang-orang yang  lalai dari sholatnya atau bahkan meninggalkan sholat? Tidak cukupkah bukti dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa kelak di akhir zaman jumlah wanita akan lebih banyak dari laki-laki, tidak cukupkah bukti dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa kelak di akhir zaman akan banyak wanita yang berpakaian tapi telanjang, tidak cukupkah bukti dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa kelak diakhir zaman akan bermunculan pemimpin yang dzolim terhadap rakyatnya? Para pendusta dianggap orang yang jujur dan orang yang jujur malah didustakan? Tidak cukupkah bukti dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ummat Islam kelak akan diperebutkan -bagai makanan di tengah-tengah orang kelaparan- oleh musuh-musuhnya walaupun jumlah mereka banyak? Tidak cukupkah bukti bahwa kelak waktu sepekan seakan sehari, dan sebulan seakan sepekan? TIDAK CUKUPKAH SEMUA ITU WAHAI SUADARAKU??? Padahal semuanya telah terjadi hari ini!??

Mari kita instropeksi diri masing-masing, bermuhasabah, dan menghitung-hitung banyaknya kelalaian yang kita lakukan kepada Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini. Jika sekiranya cap sebagai orang munafik itu ketika ia berat melaksanakan sholat Isya dan Subuh, lantas bagaimana lagi dengan orang yang berat melaksanakan semua sholat-sholat lima waktu?

Wallahu ‘alam, Semoga bermanfaat.

 

Edited:

Kamis

24

MUHARRAM

1435

/

28

NOVEMBER

2013

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: