Bahaya Bid’ah bagi Ummat Islam

Bid’ah merupakan suatu perbuatan atau amalan yang dilakukan sesorang dalam peribadhatan kepada Allah Azzawajallah yang tidak ada dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘Alahi wa Sallam. Sebagaimana yang ditakwilkan dalam banyak hadist, bahwa bid’ah merupakan perbuatan tercela dan sesat dan pelakunya diancam akan dimasukkan kedalam neraka dengan adzab yang sangat pedih.

5Anggapan baik terhadap bid’ah oleh sabagian orang seolah mengartikan dan menganggap bahwa agama Islam ini seolah-olah belumlah sempurna padahal Allah dan Rasulnya telah mengisyaratkan dan menyampaikan kepada kita bahwa Syari’at islam ini telah sempurna, sehingga tidak memerlukan tambahan ataupun pengurangan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah ku ridhoi islam sebagai agamamu.” (Qs. Al-Maidah: 3)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam juga tidaklah akan wafat dan meninggalkan kaumnya kecuali telah menjelaskan seluruh perkara dunia dan agama yang dibutuhkan. Jika demikian, maka maksud perkataan atau perbuatan bid’ah dari pelakunya mengambarkan dan mengindikasikan bahwa agama ini seakan-akan belumlah sempurna, sehingga perlu untuk dilengkapi dan diperhiasi lagi, sebab amalan yang dilakukan oleh ahli bid’ah dianggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala belum terdapat di dalamnya didalam tuntunan hidup dan ajaran yang telah diajarkan dan dipahamkan oleh Rasulullah.

Ibnu Majisyun berkata :”Aku mendengar Imam malik berkata: “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam islam dan melihatnya sebagai suatu kebaikan, maka Sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi wa Sallam telah berkhianat kepada Allah dan tidak jujur dalam menyampaikan risalah kepada ummat manusia, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman Dalam Al-qur’an , “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamu.” Maka apa yang pada hari itu tidak termasuk sebagai agama maka pada hari inipun bukan termasuk Agama.”( Asy-syatibi dalam Al-I’tisam).

Imam At-Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah lebih di cintai olehiblis dari pada perbuatan maksiat, seorang terkadang bertaubat darimaksiat tetapi seseorang sulit bertaubat dari perbuatan bid’ahnya”

Maksud perkataan Imam Ats-Tsauri rahimahullah itu di jelaskanoleh Ibnu Thaimiyah sebagai berikut: (makna perkataan merekapara imam islam, seperti Sufyan Ats-Tsauri dan lainnya) bahwa ,amalan buruknya (yaitu bid’ah tersebut pent.) telah di hias-hiasioleh syaitan sehinggga ia melihatnya sebagai suatu kebaikan,karena permulaan taubat adalah mengetahui perbuatannya ituburuk, sehingga ia bertaubat darinya, atau bahwa ia telah peninggalkan suatu kebaikan yang di perintahkan secara wajibatau tidak wajib, sehingga dia bertaubat dan mengerjakannya.Maka selama dia melihat perbuatannya suatu kebaikan, padahal sebenarnya adalah suatu keburukan, niscaya dia tidak akan bertaubat (Majmu’ fatawa X/9)

Salah satu hal yang menjadi permaslaahan terkait masalah bid’ah adalah disetiap satu perbuatan bid’ah yang lahir, maka secara langsung juga akan mematikan satu perbuatan sunnah. Contoh lahirnya perilaku yasinan setiap malam jumat, secara tidak langsung akan mematikan sunnah membaca surah Al kahfi pada hari jumat, dan contoh-contoh lainnya.

Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh para ulama, yakni Seperti apa yang di katakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu wa Anhu bahwa: “Tidaklah datang suatu tahun pada Manusia melainkan mereka membuat bid’ah dan mematikan sunnah, hingga bentuk-bentuk bid’ah menjadi hidup dan sunnah menjadi mati.”

Hasan bin ‘Athiyyah : “Tidaklah suatu kaum membuat bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka sunnah yang sepadan dengannya, kemudian tidak akan mengembalikan kepada mereka sampai hari kiamat.”

Dan betapa indahnya yang dikatakan oleh sahabat agung Ibnu mas’ud Radhiallahu wa Anhu: “Hendaklah kamu menghindari apa yang baru di buat Manusia dari bentuk-bentuk bid’ah. Sebab agama tidak akan hilang dari hati seketika. Tetapi syaithan membuat bid’ah baru untuknya, hingga iman keluar dari hati, dan hampir-hampir Manusia meninggalkan apa yang telah di tetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka berupa shalat, puasa, halal dan haram, sementara mereka masih berbicara tentang Tuhan Yang Mahamulia. Maka siapa yang mendapatkan masa itu hendaknya dia lari. “Ia di tanya, “Wahai Abu Abdurrahman , kemana larinya ? “ia menjawab. “Tidak kemana-mana. Lari dengan hati dan agamanya. Janganlah duduk besama-sama dengan ahli bid’ah.(Al-Hajjah I/312 oleh Al-Ashbahani)

Wallahua’laam

Categories: ARTIKEL, Dakwah, hukum, Tauhid, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: