“Kanreapia”

oleh : Abu Fatih Al  Saely

Aku masih merasa lelah ketika aku berhasil mencapai puncak gunung yang telah ku daki. Walaupun gunung yang ku daki kali ini tak terlalu tinggi, namun udara dingin di sini jauh lebih menusuk dibandingkan dengan gunung-gunung yang telah ku daki sebelumnya. Ku rebahkan tubuhku diatas pangkuan bumi dengan permadani rerumputan hijau sebagai pengalasnya, tak lupa ku jadikan sengatan matahri sebagai penghangatku dari dingin yang menusuk ke dalam sendi-sendi tulangku.

Setelah terlelap beberapa saat di pembaringanku yang terasa nyaman, akhirnya ku membuka kedua mataku dan menyaksikan sekelilingku. Hutan, pepohonan hujau dan beberapa buah tenda dengan aktivitas penghuninya, itulah pemandangan indah yang ku saksikan disekelilingku.

“Masyaallah” keindahan yang kusaksikan hari itu membuatku terasa terlepas dari beban-beban duniawi yang terus menghimpit hidupku, beban sebagai mahasiswa tingkat akhir yang harus berburu waktu menyelesaikan perkuliahan, beban sebagai anak lelaki di keluarga yang telah lama kehilangan tulangpunggung pencari nafkahnya, beban sebagai manusia dengan sejuta rutinitas dunia, juga beban sebagai pengemban amanah dakwah yang begitu berat yang gunungpun yang ku pijak hari itu tak mampu memikulnya.

Selepas berlehat sejenak, dengan sedikit agak malas ku menyeret kakiku menuju sumber air untuk mengambil air wadhu bersama kawan-kawan yang lainnya untuk melaksanakan sholat duhur dan ashar yang belum sempat kami tunaikan. Dengan bantuan pengeras suara, kumandang adzan dari muadzin telah melalu lantang bak surau kecil ditengah hutan terpencil. Dengan sedikit bergegas, melewati celah-celah pepohonan ku menuju tenda, tempat kami menyimpan perbekalan kami selama berada di atas gunung. Ku raih ranselku, dan segera mengambil jaket ketigaku dan mengenakannya “Ternyata air di atas gunung itu, tak ubahnya sebuah es yang meleleh dan mengalir melalui ceelah-celah akar pepohohonan yang berlumut” itulah keluhku bibirku yang melaui merasakan angin-angin gunung telah bertiup.

Selang beberapa saat, dengan gerakan-gerakan lambat dan penuh kekhusyuaan, terlepaslah sudah beban dipundak yang menjadikan pembeda dengan ummat-ummat lain.

“sesungguhnya yang membedakan ummat islam dengan kekafiran adalah sholatnya”.

****

Sore itu, suara serinai dari pengeras suara dengan teriakan takbir telah membuncah aktifitas penghuni tenda yang mengaharuskan mereka harus berkumpul dengan segera. Sore ini, kami dari panitia sepakat mengadakan sebuah permainan. Namun uniknnya, permainan ini tidak akan pernah kau saksikan dan temukan di dunia game maupun fitur-fitur permainan lainnya. Karena permainan sore itu, adalah permainan yang tak biasa, permainan yang akan membuat kita kembali ke beberapa abad silam, ketika agama islam itu hadir ditengah-tengah ummat untuk mengajarkan tauhid hanya kepada Allah.

Yah.. inilah simulasi perang badar, perang besar pertama ummat islam dengan menggunakan senjata untuk menumpas kekafiran di bumi arab. Namun tentulah, karena hanya simulasi dan permainan semata jadi tak menggunakan benda-benda berbahaya, namun yang ingin dititik beratkan adalah ibrah dari perang tersebut. Olehnya permainan kali ini, hanyalah berlomba merebut panji (bendera) lawan mereka.

Perang dimulai dengan adu tanding (sparing) para jagoan dari dua buah kubu. Sparing kali ini, adalah berlomba memperebutkan secarik kain yang diselipkan di saku belakang para jagoan. Dengan semangat menggebu, para perwakilan dari dua kubuh saling adu kekuatan dan ketangkasan untuk dengan segera merebut secarik kain milik lawannya. Setelah ditentukan pemenangnya maka tahap selanjutnya perang besar dimulai. Disertai lantunan takbir yang terus menggema di tengah hutan belantara semangat para peserta mulai terbakar, mereka dengan cekatan dengan startegi masing-masing berusaha merebut panji yang dipegang oleh masing-masing pemimpin lawannya.

Tak terasa, malam telah menjelang, suara-suara jangkrik mulai memekik ditengah kesunyian hutan. Sang pangeran matahari perlahan meninggalkan singgasananya, menyisahkan sedikit cahaya disela-sela dedaunan dan ranting-ranting pohon. Malam ini menjadi malam pertama di puncak gunung itu, ditemani hitamnya malam, suara binatang malampun mulai merembes memecah kesunyian, dan tak kalah menggetarkan udara dingin menusuk telah merembes masuk kedalam baju-baju baja yang berlapis. Namun kesemuanya tak bisa menghentikan lantunan kumandang adzan sang muadzin untuk memanggil jiwa-jiwa kosong untuk segera menghadap keperaduan sang pemilik malam. Lantunan bait-bait kalimat Allah menjadi penghangat tubuh yang mulai ringkuh dan takluk dari udara dingin.

“Tidaklah ku jadikan pergantian siang dan malam sebagai tanda-tanda ke kuasaKu bagi orang-orang yang berfikir”.

Yah… inilah malam pertamaku ketika berada di puncak gunung “Kanreapia”

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: