Dari Desa hingga ke Kota sambung-menyambung menjadi satu demikianlah ukhuwah

oleh  abu Abdurrahman

Sangat nampak dan kontras di depan mata kita begitu banyak perbedaan yang melekat dalam diri kita masing-masing, ada yang gagah, cantik, kaya, kuat, cerdas, demikian pula sebaliknya. Terkadang perbedaan itu membuat sekat dan jurang pemisah antara manusia yang satu dengan yang lainnya, seolah-olah hidup itu adalah komunitas, kelompok, atau milik orang-seorang tertentu. Maka muncullah istilah milih-milih teman, senior-junior, perumahan elit dan perumahan kumuh. Orang yang kaya dan glamour senangnya berkawan dengan orang-orang yang kaya dan glamour pula, yang merasa pintar senangnya bergaul dengan sesamanya orang yang kelihatan pintar, yang senior seolah lebih hebat dari junior sehingga mengabsahkan segala bentuk kesewenangannya.151

Fenomena perbedaan di kalangan manusia seharusnya kita anggap sebagai kemahakuasaan Allah dalam menciptakan kehidupan ini, apa jadinya seandainya manusia diciptakan dalam satu cetakan yang sama secara keseluruhan dari nabi Adam ‘alaihissalam hingga manusia terakhir kelak? Apa jadinya seandainya manusia terlahir dan hidup dalam kekayaan seluruhnya? Allah azza wajalla menciptakan kita beraneka ragam, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, laki-laki dan perempuan semata-mata agar kita bisa saling mengenal satu sama lain (pent. Lihat surah Al Hujuraat ayat 13).

Logika sederhananya sesuatu akan kita kenali dengan baik ketika sesuatu itu memiliki ciri khas tertentu yang tidak menyamakannya dengan yang lain. Tapi bukan berarti perbedaan itu pula berbanding lurus atau sama dengan derajat kita di sisi Allah azza wajalla, bukan berarti yang kaya otomatis mulia di sisi Allah azza wajalla sebaliknya yang miskin sudah pasti hina-dina di sisi Allah azza wajalla, semua jenis manusia apapun bentuk dan cirinya berhak dan pantas untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah azza wajalla tapi tentunya dengan satu label yang harus melekat pada diri manusia tersebut yaitu takwa. Kata Allah azza wajalla “…sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…” (Q.S. Al Hujuraat:13). Maka wajar ketika kemuliaan tersebut telah kita raih maka akan merubah dunia kita, yang awalnya hina karena posisinya sebagai seorang budak/ata akan menjadi mulia melebihi kemuliaan seorang raja/karaeng/puang, berminat? “Maka pantaskanlah diri anda” kata Mario teguh.

Selanjutnya, setelah menyadari arti perbedaan itu maka perjalanan berikutnya yang kita tempuh adalah ta’aruf (kenal-mengenal). Masih segar di ingatan kita tragedi pesawat Malaysia airways MH 17 yang menjadi sasaran tembak pemberontak Ukraina pro Rusia sampai membuat pesawat tersebut hancur berkeping-keping berikut dengan orang-orang yang ada di dalamnya, mungkin di antara kita ada yang berpikir bagaimana caranya mengenali dan mengumpulkan jasad orang-orang yang sudah menjadi kepingan berserakan tersebut? apatahlagi dalam kondisi hangus terbakar. Tapi nyatanya para ahli forensik berhasil mengumpulkan kepingan tubuh mayat yang tersisa lengkap dengan identitasnya tidak ada yang tertukar antara kepingan tubuh mayat yang satu dengan yang lainnya. Masya Allah.

Maka pantaslah ketika Allah azza wajalla menjadikan kenal-mengenal sebagai akibat dari penciptaan kita yang beraneka ragam. Pepatah lama mengajarkan kita “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” , seorang anak akan mencintai orang tuanya karena ia lebih mengenal dekat orang tuanya di bandingkan orang lain, ia tahu persis namanya, tanggal lahirnya, wajahnya, rasa masakannya, suaranya, perangainya, curahan kasih sayangnya, pegorbanannya, dll. Sederhananya semakin banyak bukti yang mengisi otak kita tentang keadaan suatu objek maka semakin kenal kita dengan objek tersebut. Dengan kenal-mengenal maka akan mengantarkan kita pada kecintaan atau penolakan terhadap sesuatu. Masya Allah.

Perjalanan selanjutnya yang kita tempuh dan inilah yang menjadi inti daripada tulisan ini adalah ukhuwah atau persaudaraan. Ukhuwah itu sambung menyambung menjadi satu membentuk lingkaran utuh yang tak berpengujung, dari desa hingga ke kota, dari mahasiswa baru hingga senior, dari yang muda hingga yang tua, dari masyrik hingga ke magrib. Kata Allah azza wajalla “sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Q.S. Al Hujurat:10), para ulama menafsirkan kata bersaudara di sini maksudnya adalah ikatan keakraban yang kedudukannya melebihi kedudukan persaudaraan karena pertalian darah. Masya Allah kalau demikian adanya apa yang menghalangi kita untuk merekatkan ukhuwah di antara kita, begitu agung dan tingginya Allah azza wajalla yang telah menganugerahi kita keislaman sehingga menjadikan kita bersaudara. Maka izinkanlah kami tuk memanggilmu “saudara”. Dan melalui tulisan ini kusampaikan padamu “saudaraku, kami mencintaimu karena Allah”.

Karena bersaudara maka pasti akan memunculkan rasa peduli dan cinta terhadap sesamanya. Disinilah letak kekuatan persaudaraan itu, saling mengokohkan dan menguatkan satu sama lain, saling melindungi dan menjaga satu sama lain, bukan malah sebaliknya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan persaudaraan ibarat satu tubuh, ketika satu anggota tubuh kita sakit maka anggota tubuh yang lain akan turut merasakannya pula. Contoh kecilnya sakit gigi, bagaimana rasanya?

Demikianlah tuntunan agama mengajarkan pelajaran-pelajaran berharga dari setiap lembaran kehidupan kita, terlihat sederhana namun mengandung makna dan arti yang luar biasa, selamat bersaudara.

Categories: ARTIKEL, Dakwah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: