“Ini Yang Terakhir”

oleh: Abu Muhammad

Saat tenggelam dalam kemaksiatan, kita pasti merasakan ketidaktenangan. Apalagi jika kita memang tahu bahwa perbuatan tersebut adalah kemaksiatan. Bahkan ia mungkin merupakan dosa besar di sisi Allah. Berulang-ulang, hal itu terus dilakukan. Sampai pada titik bahwa kita benar-benar menyesal melakukannya. Lalu kita bertekad untuk tidak mengulangi kemaksiatan yang sama. Kita pun berkata, “ini yang terakhir”.

Waktu terus berlalu, dan godaan itu pun kembali datang. Lalu, kita pun terjatuh lagi. Memang, setan begitu gigih dan lihai dalam menggoda manusia, mereka tahu betul apa kelemahan kita. Hal yang sama terjadi lagi, kita pun menyesal lalu kembali berkata dalam hati, “ini yang terakhir”. 


Benarkah? Ternyata, tidak segampang itu meninggalkan kemaksiatan yang sudah menjadi kebiasaan. Mungkin “ini yang terakhir” akan terus diucapkan -setelah bermaksiat- hingga tanpa disadari umur kita terus merayap dan kebiasaan itu menjadi rutinitas.

Sudah, kini saatnya kita menghentikan kebiasaan buruk kita. Kita khawatir, jika terus menerus melakukan kebiasaan maksiat itu, suatu saat tidak ada lagi rasa penyesalan, bahkan bisa jadi akan menjauhkan kita dari Allah sejauh-jauhnya. Jangan sampai kita termasuk orang yang menunda-nunda taubat, hingga kematian datang dan kita belum bertauba. Iyadzan billah.(*)

 

*sumber: http://risaluddinsyam.blogspot.com/2014/05/ini-yang-terakhir.html#more

Categories: ARTIKEL, Dakwah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: