UKHUWAH DAN ….

 

sahabat-terbaikOleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd*

Muqodimah.

Ukhuwah secara bahasa adalah persaudaraan. Ukhuwah ini lah yang menjadi kan iman kita sempurna, ukhuwah inilah yang menjadikan kita mendapatkan cinta Allah, ukhwah ini lah yang menjadikan kita mendapatkan mimbar dari cahaya dan yang menjadikan kita mendapatkan naungan di akhirat kelak ketika tidak ada lagi naungan kecuali naungan dari Allah.

UKHUWAH DAN IMAN

Dasar dari ukhuwah adalah keimanan sebab ikatan persaudaraan yang paling kuat adalah yang diikat oleh iman, bahkan lebih kuat dari persaudaraan yang diikat oleh darah dan nasab

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. (Al Hujarat:10)

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidak akan sempurna iman kalian sampai kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)
Iman akan sempurna jika dibangun di atas saling mencintai karena Allah, dengan demikian ukhuwah yang kuat adalah ukhuwah yang didasari atas saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau kita mengaku sebagai orang yang beriman maka seharusnya kita mampu berukhuwah dengan saudara kita. Sebalik nya, bila kita tak memilki ukhuwah, belum mampu mencintai saudara kita, cukup tanyakan pada diri ini, telah sempurnakah iman kita? Masih ada kah iman dalam hati kita?.

UKHUWAH DAN KESABARAN

Dalam ilmu fisika semakin dekat jarak dua buah benda maka semakin besar pula gaya gesek yang terjadi diantara mereka. Semakin dekat jarak hati dua orang manusia, semakin sering kita bersama, bekerja bersama, berdakwah bersama, maka pasti semakin besar pula gesekan-gesekan yang terjadi. Ini adalah sunnatullah kehidupan.

Tidak saja kita sebagai manusia biasa yang hidup di zaman ini, abu bakar dan umar saja,dua orang sahabat Rasulullah, telah dijamin masuk surga, sering sekali bergesekan, berbeda pandangan. Teringat kisah tawanan perang badar; abu bakar mengusulkan agar mereka dibebaskan bersyarat namun umar mengusulkan agar mereka dibunuh saja. Hingga suatu ketika umar berkata kepada abu bakar, “wahai abu bakar, menagapa Engkau selalu berbeda pendapat dengan saya?” Dua orang termulia setelah Rasulullah memiliki karakter mendasar yang sangat berbeda; abu bakar dengan kelembutannya dan umar dengan ketegasannya.

Namun apakah perbedaan karakter tersebut menjadikan ukhuwah mereka terpecah? Menjadikan mereka saling mo`jo – mo`jokan? Saling mejelekkan satu sama lain? saling menjatuhkan ? Sekali pun tak pernah. Ingatlah ketika Rasulullah wafat, saat itu umar belum mampu menerima wafat nya Rasulullah, abu bakarlah yang menenagkan nya. Ketika kaum muslimin berkumpul untuk mencari khalifah Rasulullah, Umar lah yang lebih dahulu membaiat Abu bakar. Masya..Allah, sungguh ukhuwah yang begitu indah.

Maka perbedan pendapat, pandangan, sifat dasar, itu adalah lumrah, mausiawi, sunnatullah. Itulah sebabnya, dakwa tidak pernah dilepaskan dari kesabaran.kesabaran menhdpi mad`u dan kesabaran hidup bersama, diatas perbedaan tabiat, prilaku, sikap dan pandangan dari saudara seperjuangan kita. Tidk saja kita yang manusia basa ini, bahwak rasulullah pun diperintahkan bersabar hidup bersama sahabt-sahabat nya.

“ dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru kepada tuhan nya pada pagi dan sore hari dengan mengharap keridhoan-Nya; (Al Kahfi: 28)

Bila Rasullah saja disuruh bersabar hidup bersama sahabat nya yang menyeruh siang dan malam (berdakwah), apalagi kita. Rasulullah, orang yang paling mulia, diperitahkan bersabar hidup dengan orang mulia yang lain, maka terlebih lagi kita, lebih butuh dengan kesabaran itu dikala hidup bersama kaum saudara seperjungan kita.

UKHUWAH DAN AMAL SHOLIH-DAKWAH

Tidak lah cukup diri ini jika sekedar beriman tanpa berbanding lurus antara keimanan dan amal sholehnya. ukhuwah yang benar adalah ukhuwah yang berbuah pada amal sholeh dan dakwah. Semakin erat ukhuwah,maka dianatara kita akan salingmenguatkan dalam amal sholeh dan dakwah

Saudaraku setiap kita tidak akan bisa berkalung dengan kesuksesan hingga kita berkalung kesabaran, karena kesuksesan akan datang pada mereka yang berjuang dan bersabar untuk mendapatkannya bukan pada mereka yang hanya sekedar mengharapkannya. Sungguh betapa besar arti dan perannya kader dakwah dalam perjuangan, apalagi jika ditopang dengan ilmu serta jiwa sami’na wa atha’na atas amanah untuk terus saling kuat menguatkan bukan malah melemahkan. Namun tidak kalah besar pentingnya upaya untuk terus menambah kuantitas kader, tentu kuantitas dan kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan secara syar’i. Hanya saja, Sebagian besar fokus kegiatan para aktivitas dakwah di sekolah ataupun di kampus untuk persoalan ini lebih bersifat dakwah umum, dan memandang hal itu sudah maksimal dikerjakan dan merasa sudah menjadi sumbangsi besar dalam perjuangan, padahal aktivis dakwah sejati adalah mereka yang tidak mencukupkan diri dengan dakwah-dakwah umum, melainkan semua cara dan metode yang lebih persuasive, bersahabat atau lebih dikenal dengan dakwah fardhiyah harus ditempuh dan diprogramkan siang dan malam, berusaha dan terus berusaha, bersabar tak mengenal putus asa dan memohon petunjuk serta kekuatan dari Allah. Mari mengambil pelajaran, Rasulullah Nuh a.s diawal-awal Surah Nuh, surah ke-71 disebutkan,

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu”.(Q.S.71:2).

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang” (Q.S.71: 5).

“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Q.S.71:8-9).

Sekalipun ayat-ayat di atas bersifat umum, tersirat bagaimana Rasulullah Nuh a.s dengan Percaya dirinya memperkenalkan Ajaran Tauhid ini sekaligus mengabarkan visi dan misinya sebagai rasul Allah, lalu curhatnya lewat senandung doa kepada Allah atas perjuangan dakwah yang dijalankannya, menunjukkan kesungguhannya berdakwah kepada kaumnya tanpa mengenal lelah dan putus asa, meskipun ditemuinya adalah penolakan dan penentangan keras dari kaumnya yang kafir.

Mentadabburi ayat di atas, akan menyadarkan kia bahwa dakwah ini bukan kegiatan paru waktu saja, kita kerjakan dikala senggang dan ditinggalkan dikala sibuk. Dakwah adalah amalan kontinyu selama 24 jam, lailawwanahara, siang dan malam, itulah dakwah Nabi Nuh. Ini adalah petunjuk kita dalam melakukan aktivitas dakwah.

UKHUWAH KARENA ALLAH DAN UKHUWAH FORMALITAS

Keduanya sangat berbeda. Ukhuwah karena Allah adalah ukhuwah yang lahir dari hati karena Allah sehingga ia akan mudah sampai ke hati saudara nya. Ukhuwah formalitas adalah ukhuwah yang lahir karena kebetulan satu organisasi, satu kelas, satu ormas. Cinta yang dibangun karena berada pada organisasi yang sama sehingga sering bertemu dalam musyawarah, dalam kegiatan-kegiatan, demi tercapai nya proker-proker dakwah maka berkata lah kita pada saudara kita, uhibbuka fillah akhi... Namun ukhuwah ini yang hanya sekedar jadi pemanis bibir. Diantara mereka tidak ada saling memahami, tak ada saling menolong, tidak ada saling mencintai, tidak ada saling berkorban. Semuanya sibuk dengan dirinya masing-masing, dengna angan-angan masa depan nya, dengan cita-citanya, dengan egonya. Ketika bertemu dalam musyawarah, dalam media social, berkata uhibbuka fillah, namun tiba masa harus pengorbanan, tak ada yang mau berkorban, tiba masa saudara kesulitan, tak mau membantu saudara nya kecuali setalah urusan pribadinya diselesaikn lebih dahulu. Yah, hanya sisa waktu untuk saudara, ini lah ukhuwah formalitas.

UKHUWAH DAN DOA

            Tak satu pun kejayaan islam kecuali dicapai dalam dekapan ukhuwah. Islam bisa berkembang dizaman Rasulullah karena diatara mereka terdapat ukhuwah. Islam bisa Berjaya di zaman Umar bin Khattab karena diantara mereka terjalin ukhuwah. Al faith menaklukkan konstantinopel karena diantara mereka da ukhuwah.sholeahuddin al Ayyubi mebebaskan palestina karena diantra mereka ada ukhuwah.

Ukhuwah adalah syarat mutlak sebuah kejayaan. Di dalam ukhuwah ada saling memahami, saling tolong menolong, saling member,saling meringankan beban, saling mengunjungi, saling mentraktir, saling berkorban, saling memaafkan. Dengan nya lah tersimpan kekuatan untuk sebuah kejayaan.

Namun demikian,ukhuwah tidak bisa dipaksakan. Ia harus lahir dari hati,penuh keikhlasan. Ole karena itu, agar kita bisa berda dalam dekapan ukhwah BERDOALAH kepada Allah agar kita dijadikan berada dalamsalig terpaut hati. Hati kita milik Allah, maka hanya ia pula lah yang menyatukan nya.

“Dan Allah menyatukan hati mereka. Seandainya engkau membelanjakan seluruh harta dimuka bumi untu menyatukan hati mereka, niscaya engkau tidak akan mampu menyatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah lah yang telah menyatukan hati mereka“(Al Anfa:63)

 

*MSO FSI RI UNM, Pembina Pusat Jaringan Nasional Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia    (LIDMI)

Mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Fisika UGM

Rabu, 3 September 2014; pukul 09.02 WIB

@pondok perjuangan; Pondok Mahasiswa Al Madinah Nusantara Yogyakarta

Categories: ARTIKEL, Buletin Dakwah, Dakwah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: