Awas Kesyirikan Di Sekitar Kita

094141100_1413477291-kerbau_slametwww.fsiriunm.tk. Jika mendengar berita seekor kerbau disembelih atau mati secara tiba-tiba mungkin adalah perkara yang lumrah dan biasa ditelinga kita. Namun berbeda halnya jika yang meninggal merupakan seekor kerbau yang dikeramatkan. Apalagi kerbau itu dianggap sebagai jelmaan seorang alim ulama.

Kyai Bodong, adalah Seekor kerbau yang menurut sebagian orang merupakan keturunan Kyai Slamet (kerbau juga) yang menjadi salah satu pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, mati pada hari Selasa (4/11/2014) pada pukul 18.30 WIB. Matinya Kyai Bodong, kerbau bule keramat di Keraton Kasunanan Surakarta tersebut ditangisi oleh sebagian orang. Pasalnya, Kerbau Bule keturunan Kyai Slamet ini dianggap memiliki kerberkahan dan sakti. Bahkan kotorannya pun diperebutkan untuk ngalap berkah katanya. Naudzubillah…

Sungguh keberkahan hanya dari Allah azzawajallah, mencari berkah cukuplah hanya kepada Sang Pemilik berkah itu, karena tidak ada seorang makhlukpun yang dapat memberikan berkah selain dari Allah subahanahuwataala.

Inilah salah satu bentuk kejahiliyaan ala modern yang ada di Indonesia. Tak sedikit  dari kita menjadi penyembah bahkan pengagung hal tersebut. Semoga Allah membukakan pintu hidayahnya kepada kita semua. Sungguh tipu daya setan itu sangat manjur, Jangankan ketika hidup bahkan Selepas kematian kerbau ini, khurafat dan kesyirikan malah semakin hidup. Berikut di antaranya:

  1. Pamit Akan Meninggal

Sebelum mati, Kerbau Bule keturunan Trah Kyai Slamet, Kyai Bodong sempat berpamitan kepada Srati (pawang) yang merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta, bernama Sukir. Meskipun tidak berpamitan secara lisan, Sang Pawang bisa merasakan sebentar lagi Kyai Bodong bakal mati. “Sebelum mati, Sukir (pawang) merasakan Kerbau ini sering murung dan menjadi pendiam. Biasanya, saat berada di kandang, (Kyai Bodong) sering merespon apapun yang dilakukan oleh Sukir,” kata Adik Ipar Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro, Rabu (5/11/2014).

  1. Mati di Hari Keramat

Kematian Kyai Bodong pada hari Selasa (4/11/2014) jam 18.30 WIB bertepatan dengan satu hari setelah tanggal 10 Muharam yang jatuh pada hari Senin (3/11/2014). Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tanggal 10 Muharam dianggap keramat, dan setelah selang sehari dari tanggal tersebut maka dianggap sebagai hari yang baik.

  1. Kematiannya Pertanda Bala’

Putra Paku Buwono (PB) XII Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Soeryo Wicaksono mengatakan kematian kerbau pusaka itu merupakan pertanda akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Pasalnya dari beberapa kejadian, apa yang akan menimpa keraton selalu diawali dengan munculnya pertanda terlebih dahulu.  “Kalau memang Bodong mati ditusuk oleh orang yang tak dikenal, berarti itukan dianiyaya. Semoga ini bukan sebagai pertanda buat keraton. Setiap akan ada sesuatu yang menimpa keraton, selalu saja diawali dengan pertanda,” ujarnya.

  1. Kematiannya Menghentikan Hujan

Seusai dikabarkan mati, Kyai Bodong langsung dibawa dari Solo Baru menuju ke Sitinggil Alun-alun Kidul Keraton Surakarta. “Saat itu, hujan deras sekali, langsung kami bawa ke Sitinggil menggunakan mobil L 300. Saat masuk ke Alun-alun Kidul, hujan langsung berhenti,” kata Adik Ipar Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro.

  1. Penguburan dengan Prosesi Ritual

Kanjeng Rawarga-ziarah-ke-makam-kerbau-bule-Kyai-Bodong-Okezoneden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro menuturkan sebelum di kubur dilakukan prosesi seperti pemakaman Kebo-kebo trah Kyai Slamet yang telah meninggal sebelumnya. Setelah didoakan dan dimandikan menggunakan air kembang, Kebo bernama Kyai Bodong ini langsung dimasukan ke liang kubur yang telah digelar kain mori.

  1. Akan Digelar Tahlilan Kematian

Usai pemakaman,Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro menambahkan pihak Keraton akan menggelar wilujengan atau peringatan doa selametan sesuai adat Jawa layaknya manusia yang meninggal. “Usai prosesi pemakaman nanti kami juga akan melakukan wilujengan tujuh hari, lalu empat puluh hari, seratus hari hingga nantinya sampai ke nyewu,” sambungnya.

  1. Diziarahi Makamnya untuk Ngelap Berkah

Setelah dikubur, Kyai Bodong kemudian mulai menarik minat warga untuk berziarah. Sebagian warga tampak bersemedi atau bermeditasi di sekitar makamnya.

Akhir kata, kami mengingatkan kepada diri kami pribadi dan pembaca sekalian bahwa berhati-hatilah dalam perkara ini, sungguh telah banyak beredar dan menghantui disekitar kita berbagai bentuk kesyirikan ini, dan Allah telah mengancam pelaku-pelaku kesyirikan dengan hukuman yang amat berat, bahkan bisa jadi tak ada lagi ampunan buatnya dan kekal di dalam neraka. naudzubillah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa`: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan semua amalanmu akan terhapus dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.” Dikatakan kepada beliau, “Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kesyirikan kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina.” (HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Sumber: http://news.fimadani.com/

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: